PERDARAHAN PASCA PERSALINAN (HEMORAGIG POSTPARTUM)


pendarahan pasca persalinan (post partum) adalah pendarahan pervaginam 500ml atau lebih sesudah anak lahir. perdarahan merupakan penyebab kematian nomorsatu (40%-60%) kematian ibu melahirkan di indonesia. pendarahan pasca persalinandapatdisebabkan oleh atonia uteri, sisa plasenta, retensio plasenta, inversio uteri,laserasi jalan lahir dan gangguan pembekuan darah.
klasifikasi klinis
1) perdarahan pasca persalinan dini (early postpartum haemorrhage, atauperdarahan postpartum primer, atau perdarahan pasca persalinan segera).perdarahan pasca persalinan primer terjadi dalam 24 jam pertama. penyebabutama perdarahan pasca persalinan primer adalah atonia uteri, retensio plasenta,sisa plasenta, robekan jalan lahir dan inversio uteri. terbanyak dalam 2 jampertama.
2) perdarahan masa nifas (pph kasep atau perdarahan persalinan sekunder atau
perdarahan pasca persalinan lambat, atau late pph). perdarahan pascapersalinan sekunder terjadi setelah 24 jam pertama. perdarahan pasca persalinan sekundersering diakibatkan oleh infeksi, penyusutan rahim yang tidak baik, atau sisaplasenta yang tertinggal.
gejala klinis
gejala klinis berupa pendarahan pervaginam yang terus-menerus setelah bayilahir. kehilangan banyak darah tersebut menimbulkan tanda-tanda syok yaitupenderita pucat, tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstrimitasdingin, dan lain-lain. penderita tanpa disadari dapat kehilangan banyak darah sebelumia tampak pucat bila pendarahan tersebut sedikit dalam waktu yang lama.
diagnosis
perdarahan yang langsung terjadi setelah anak lahir tetapi plasenta belum lahirbiasanya disebabkan oleh robekan jalan lahir. perdarahan setelah plasenta lahir,biasanya disebabkan oleh atonia uteri. atonia uteri dapat diketahui dengan palpasi uterus ; fundus uteri tinggi di atas pusat, uterus lembek, kontraksi uterus tidak baik.sisa plasenta yang tertinggal dalam kavum uteri dapat diketahui dengan memeriksaplasenta yang lahir apakah lengkap atau tidak kemudian eksplorasi kavum uteriterhadap sisa plasenta, sisa selaput ketuban, atau plasenta suksenturiata (anakplasenta). eksplorasi kavum uteri dapat juga berguna untuk mengetahui apakan adarobekan rahum. laserasi (robekan) serviks dan vagina dapat diketahui denganinspekulo. diagnosis pendarahan pasca persalinan juga memerlukan pemeriksaanlaboratorium antara lain pemeriksaan hb, cot (clot observation test), kadarfibrinogen, dan lain-lain

faktor-faktor yang mempengaruhi perdarahan pascapersalinan
1.perdarahan pascapersalinan dan usia ibu
wanita yang melahirkan anak pada usia dibawah 20 tahun atau lebih dari 35 tahunmerupakan faktor risiko terjadinya perdarahan pascapersalinan yang dapatmengakibatkan kematian maternal. hal ini dikarenakan pada usia dibawah 20tahun fungsi reproduksi seorang wanita belum berkembang dengan sempurna,sedangkan pada usia diatas 35 tahun fungsi reproduksi seorang wanita sudahmengalami penurunan dibandingkan fungsi reproduksi normal sehinggakemungkinan untuk terjadinya komplikasi pascapersalinan terutama perdarahanakan lebih besar. perdarahan pascapersalinan yang mengakibatkan kematianmaternal pada wanita hamil yang melahirkan pada usia dibawah 20 tahun 2-5 kalilebih tinggi daripada perdarahan pascapersalinan yang terjadi pada usia 20-29tahun. perdarahan pascapersalinan meningkat kembali setelah usia 30-35tahun
2.perdarahan pascapersalinan dan gravida
ibu-ibu yang dengan kehamilan lebih dari 1 kali atau yang termasuk multigravidamempunyai risiko lebih tinggi terhadap terjadinya perdarahan pascapersalinan dibandingkan dengan ibu-ibu yang termasuk golongan primigravida (hamilpertama kali). hal ini dikarenakan pada multigravida, fungsi reproduksi mengalami penurunan sehingga kemungkinan terjadinya perdarahan pascapersalinan menjadi lebih besar.
3.perdarahan pascapersalinan dan paritas
paritas 2-3 merupakan paritas paling aman ditinjau dari sudut perdarahanpascapersalinan yang dapat mengakibatkan kematian maternal. paritas satu danparitas tinggi (lebih dari tiga) mempunyai angka kejadian perdarahanpascapersalinan lebih tinggi. pada paritas yang rendah (paritas satu),ketidaksiapan ibu dalam menghadapi persalinan yang pertama merupakan faktorpenyebab ketidakmampuan ibu hamil dalam menangani komplikasi yang terjadiselama kehamilan, persalinan dan nifas.
4.perdarahan pascapersalinan dan antenatal care
tujuan umum antenatal care adalah menyiapkan seoptimal mungkin fisik danmental ibu serta anak selama dalam kehamilan, persalinan dan nifas sehinggaangka morbiditas dan mortalitas ibu serta anak dapat diturunkan.
pemeriksaan antenatal yang baik dan tersedianya fasilitas rujukan bagi kasusrisiko tinggi terutama perdarahan yang selalu mungkin terjadi setelah persalinanyang mengakibatkan kematian maternal dapat diturunkan. hal ini disebabkan karena dengan adanya antenatal care tanda-tanda dini perdarahan yang berlebihandapat dideteksi dan ditanggulangi dengan cepat.
5.perdarahan pascapersalinan dan kadar hemoglobin
anemia adalah suatu keadaan yang ditandai dengan penurunan nilai hemoglobindibawah nilai normal. dikatakan anemia jika kadar hemoglobin kurang dari 8gr%. perdarahan pascapersalinan mengakibatkan hilangnya darah sebanyak 500ml atau lebih, dan jika hal ini terus dibiarkan tanpa adanya penanganan yang tepatdan akurat akan mengakibatkan turunnya kadar hemoglobin dibawah nilai normal

komplikasi perdarahan pascapersalinan
disamping menyebabkan kematian, perdarahan pascapersalinan memperbesarkemungkinan infeksi puerperal karena daya tahan penderita berkurang. perdarahanbanyak kelak bisa menyebabkan sindrom sheehan sebagai akibat nekrosis padahipofisisis pars anterior sehingga terjadi insufisiensi pada bagian tersebut. gejalanyaadalah asthenia, hipotensi, anemia, turunnya berat badan sampai menimbulkankakeksia, penurunan fungsi seksual dengan atrofi alat alat genital, kehilangan rambutpubis dan ketiak, penurunan metabolisme dengan hipotensi, amenore dan kehilanganfungsi laktasi

penanganan perdarahan pascapersalinan
penanganan perdarahan pasca persalinan pada prinsipnya adalah hentikanperdarahan, cegah/atasi syok, ganti darah yang hilang dengan diberi infus cairan(larutan garam fisiologis, plasma ekspander, dextran-l, dan sebagainya), transfusidarah, kalau perlu oksigen. walaupun demikian, terapi terbaik adalah pencegahan.mencegah atau sekurang-kurangnya bersiap siaga pada kasus kasus yang disangkaakan terjadi perdarahan adalah penting. tindakan pencegahan tidak saja dilakukansewaktu bersalin, namun sudah dimulai sejak ibu hamil dengan melakukan “antenatalcare” yang baik. ibu-ibu yang mempunyai predisposisi atau riwayat perdarahan postpartum sangat dianjurkan untuk bersalin di rumah sakit. di rumah sakit, diperiksakadar fisik, keadaan umum, kadar hb, golongan darah, dan bila mungkin tersediadonor darah. sambil mengawasi persalianan, dipersiapkan keperluan untuk infus danobat-obatan penguat rahim
                anemia dalam kehamilan, harus diobati karena perdarahan dalam batas batasnormal dapat membahayakan penderita yang sudah menderita anemia. apabilasebelumnya penderita sudah pernah mengalami perdarahan post partum, persalinanharus berlangsung di rumah sakit. kadar fibrinogen perlu diperiksa pada perdarahanbanyak, kematian janin dalam uterus, dan solutio plasenta
dalam kala iii, uterus jangan dipijat dan didorong kebawah sebelum plasentalepas dari dindingnya. penggunaan oksitosin sangat penting untuk mencegahperdarahan pascapersalinan. sepuluh satuan oksitosin diberikan intramuskular segerasetelah anak lahir untuk mempercepat pelepasan plasenta. sesudah plasenta lahir, hendaknya diberikan 0,2 mg ergometrin, intramuskular. kadang-kadang pemberianergometrin setelah bahu depan bayi lahir pada presentasi kepala menyebabkanplasenta terlepas segera setelah bayi seluruhnya lahir; dengan tekanan pada fundusuteri, plasenta dapat dikeluarkan dengan segera tanpa banyak perdarahan. namunsalah satu kerugian dari pemberian ergometrin setelah bahu bayi lahir adalahterjadinya jepitan (trapping) terhadap bayi kedua pada persalinan gameli yang tidakdiketahui sebelumnya. pada perdarahan yang timbul setelah anak lahir, ada dua halyang harus segera dilakukan, yaitu menghentikan perdarahan secepat mungkin danmengatasi akibat perdarahan. tetapi apabila plasenta sudah lahir, perlu ditentukanapakah disini dihadapi perdarahan karena atonia uteri atau karena perlukaan jalan lahir
dalam kala iii, uterus jangan dipijat dan didorong kebawah sebelum plasentalepas dari dindingnya. penggunaan oksitosin sangat penting untuk mencegahperdarahan pascapersalinan. sepuluh satuan oksitosin diberikan intramuskular segerasetelah anak lahir untuk mempercepat pelepasan plasenta. sesudah plasenta lahir,hendaknya diberikan 0,2 mg ergometrin, intramuskular. kadang-kadang pemberianergometrin setelah bahu depan bayi lahir pada presentasi kepala menyebabkanplasenta terlepas segera setelah bayi seluruhnya lahir; dengan tekanan pada fundusuteri, plasenta dapat dikeluarkan dengan segera tanpa banyak perdarahan. namunsalah satu kerugian dari pemberian ergometrin setelah bahu bayi lahir adalahterjadinya jepitan (trapping) terhadap bayi kedua pada persalinan gameli yang tidakdiketahui sebelumnya. pada perdarahan yang timbul setelah anak lahir, ada dua halyang harus segera dilakukan, yaitu menghentikan perdarahan secepat mungkin danmengatasi akibat perdarahan. tetapi apabila plasenta sudah lahir, perlu ditentukanapakah disini dihadapi perdarahan karena atonia uteri atau karena perlukaan jalan lahir
Atonia Uteri
Atonia uteri merupakan kegagalan miometrium untuk berkontraksi setelahpersalinan sehingga uterus dalam keadaan relaksasi penuh, melebar, lembek dan tidakmampu menjalankan fungsi oklusi pembuluh darah. Akibat dari atonia uteri ini adalahterjadinya pendarahan. Perdarahan pada atonia uteri ini berasal dari pembuluh darahyang terbuka pada bekas menempelnya plasenta yang lepas sebagian atau lepaskeseluruhan. Miometrium terdiri dari tiga lapisan dan lapisan tengah merupakanbagian yang terpenting dalam hal kontraksi untuk menghentikan pendarahan pascapersalinan. Miometrum lapisan tengahtersusun sebagai anyaman dan ditembus oehpembuluh darah. Masing-masing serabut mempunyai dua buah lengkungan sehinggatiap-tiap dua buah serabut kira-kira berbentuk angka delapan. Setelah partus, denganadanya susunan otot seperti tersebut diatas, jika otot berkontraksi akan menjepitpembuluh darah. Ketidakmampuan miometrium untuk berkontraksi ini akanmenyebabkan terjadinya pendarahan pasca persalinan
Atonia uteri merupakan penyebab tersering dari pendarahan pasca persalinan.
Sekitar 50-60% pendarahan pasca persalinan disebabkan oleh atonia uteri.
Faktor-faktor predisposisi atonia uteri antara lain :
- Grandemultipara
-Uterus yang terlalu regang (hidramnion, hamil ganda, anak sangat besar (BB >
4000 gram)

-Kelainan uterus (uterus bicornis, mioma uteri, bekas operasi)
-Plasenta previa dan solutio plasenta (perdarahan antepartum
- Partus lama (exhausted mother)
- Partus precipitatus
-Hipertensi dalam kehamilan (Gestosis)
- Infeksi uterus
- Anemi berat
-Penggunaan oksitosin yang berlebihan dalam persalinan (induksi partus)

-Riwayat PPH sebelumnya atau riwayat plasenta manual
-Pimpinan kala III yang salah, dengan memijit-mijit dan mendorong-dorong uterus
sebelum plasenta terlepas
http://htmlimg3.scribdassets.com/6gjuz2htuv3b340/images/9-2025989118/000.jpg
-IUFD yang sudah lama, penyakit hati, emboli air ketuban (koagulopati)

-Tindakan operatif dengan anestesi umum yang terlalu dalam.
Penanganan atonia uteri yaitu :
1).Masase uterus + pemberian utero tonika (infus oksitosin 10 IU s/d 100 IU dalam500 ml Dextrose 5%, 1 ampul Ergometrin I.V, yang dapat diulang 4 jamkemudian, suntikan prostaglandin.
2).Kompresi bimanuil
Jika tindakan poin satu tidak memberikan hasil yang diharapkan dalam waktuyang singkat, perlu dilakukan kompresi bimanual pada pada uterus. Tangan kiripenolong dimasukkan ke dalam vagina dan sambil membuat kepalan diletakkanpada forniks anterior vagina. Tangan kanan diletakkan pada perut penderita dengan memegang fundus uteri dengan telapak tangan dan dengan ibu jari didepan serta jari-jari lain dibelakang uterus. Sekarang korpus uteri terpegangdengan antara 2 tangan; tangan kanan melaksanakan massage pada uterus dansekalian menekannya terhadap tangan kiri
3).Tampon utero-vaginal secara lege artis, tampon diangkat 24 jam kemudian.
Tindakan ini sekarang oleh banyak dokter tidak dilakukan lagi karena umumnyadengan dengan usaha-usaha tersebut di atas pendarahan yang disebabkan olehatonia uteri sudah dapat diatasi. Lagi pula dikhawatirkan bahwa pemberiantamponade yang dilakukan dengan teknik yang tidak sempurna tidakmenghindarkan pendarahan dalam uterus dibelakang tampon. Tekanan tamponpada dinding uterus menghalangi pengeluaran darah dari sinus-sinus yangterbuka; selain itu tekanan tersebut menimbulkan rangsangan pada miometriumuntuk berkontraksi
4). Tindakan operatif
Tindakan operatif dilakukan jika upaya-upaya diatas tidak dapat menhentikan
pendarahan. Tindakan opertif yang dilakukan adalah :

a) Ligasi arteri uterina
b) Ligasi arteri hipogastrika
Tindakan ligasi arteri uterina dan arteri hipogastrika dilakukan untuk yangmasih menginginkan anak. Tindakan yang bersifat sementara untukmengurangi perdarahan menunggu tindakan operatif dapat dilakukan metodeHenkel yaitu dengan menjepit cabang arteri uterina melalui vagina, kiri dankanan atau kompresi aorta abdominalis.
c) histerektomi
Laserasi Jalan Lahir
Robekan jalan lahir merupakan penyebab kedua tersering dari perdarahan pascapersalinan. Robekan dapat terjadi bersamaan dengan atonia uteri. Perdarahan pascapersalinan dengan uterus yang berkontraksi baik biasanya disebabkan oleh robekanserviks atau vagina. Setelah persalinan harus selalu dilakukan pemeriksaan vulva danperineum. Pemeriksaan vagina dan serviks dengan spekulum juga perlu dilakukansetelah persalinan.
a. Robekan vulva
Sebagai akibat persalinan, terutama pada seorang primipara, bisa timbul luka padavulva di sekitar introitus vagina yang biasanya tidak dalam akan tetapi kadang-kadang bisa timbul perdarahan banyak, khususnya pada luka dekat klitoris.
b. Robekan perineum
Robekan perineum terjadi pada hampir semua persalinan pertama dan tidak jarangjuga pada persalinan berikutnya. Robekan perineum umumnya terjadi di garistengah dan menjadi luas apabila kepala janin lahir terlalu cepat, sudut arkus pubislebih kecil daripada biasa, kepala janin melewati pintu bawah panggul dengan ukuran yang lebih besar dari sirkumferensia suboksipitobregmatika atau anak
dilahirkan dengan pembedahan vaginal. Tingkatan robekan pada perineum:
Tingkat 1: hanya kulit perineum dan mukosa vagina yang robek
Tingkat 2: dinding belakang vagina dan jaringan ikat yang menghubungkan
otot-otot diafragma urogenitalis pada garis tengah terluka.
Tingkat 3: robekan total m. Spintcher ani externus dan kadang-kadang dinding
depan rektum.
Pada persalinan yang sulit, dapat pula terjadi kerusakan dan peregangan m.puborectalis kanan dan kiri serta hubungannya di garis tengah. Kejadian inimelemahkan diafragma pelvis dan menimbulkan predisposisi untuk terjadinyaprolapsus uteri.
c. Perlukaan vagina
Perlukaan vagina yang tidak berhubungan dengan luka perineum jarang dijumpai.Kadang ditemukan setelah persalinan biasa, tetapi lebih sering terjadi sebagai akibatekstraksi dengan cunam, terlebih apabila kepala janin harus diputar. Robekanterdapat pada dinding lateral dan baru terlihat pada pemeriksaan spekulum.Robekan atas vagina terjadi sebagai akibat menjalarnya robekan serviks. Apabilaligamentum latum terbuka dan cabang-cabang arteri uterina terputus, dapat timbul perdarahan yang banyak. Apabila perdarahan tidak bisa diatasi, dilakukanlaparotomi dan pembukaan ligamentum latum. Jika tidak berhasil maka dilakukanpengikatan arteri hipogastika.
Kolpaporeksis
Adalah robekan melintang atau miring pada bagian atas vagina. Hal ini terjadiapabila pada persalinan yang disproporsi sefalopelvik terdapat regangan segmenbawah uterus dengan serviks uteri tidak terjepit antara kepala janin dengantulang panggul, sehingga tarikan ke atas langsung ditampung oleh vagina. Jikatarikan ini melampaui kekuatan jaringan, terjadi robekan vagina pada batasantara bagian teratas dengan bagian yang lebih bawah dan yang terfiksasi padajaringan sekitarnya. Kolpaporeksis juga bisa timbul apabila pada tindakan pervaginam dengan memasukkan tangan penolong ke dalam uterus terjadi perdarahan yang banyak. Apabila perdarahan tidak bisa diatasi, dilakukanlaparotomi dan pembukaan ligamentum latum. Jika tidak berhasil maka dilakukanpengikatan arteri hipogastika.
Kolpaporeksis
Adalah robekan melintang atau miring pada bagian atas vagina. Hal ini terjadiapabila pada persalinan yang disproporsi sefalopelvik terdapat regangan segmenbawah uterus dengan serviks uteri tidak terjepit antara kepala janin dengantulang panggul, sehingga tarikan ke atas langsung ditampung oleh vagina. Jikatarikan ini melampaui kekuatan jaringan, terjadi robekan vagina pada batasantara bagian teratas dengan bagian yang lebih bawah dan yang terfiksasi padajaringan sekitarnya. Kolpaporeksis juga bisa timbul apabila pada tindakan pervaginam dengan memasukkan tangan penolong ke dalam uterus terjadi robekan serviks yang luas menimbulkan perdarahan dan dapat menjalar ke segmen bawahuterus. Apabila terjadi perdarahan yang tidak berhenti meskipun plasenta sudahlahir lengkap dan uterus sudah berkontraksi baik, perlu dipikirkan perlukaan jalanlahir, khususnya robekan serviks uteri
Apabila ada robekan, serviks perlu ditarik keluar dengan beberapa cunam ovum,supaya batas antara robekan dapat dilihat dengan baik. Apabila serviks kaku dan hiskuat, serviks uteri dapat mengalami tekanan kuat oleh kepala janin, sedangkanpembukaan tidak maju. Akibat tekanan kuat dan lama ialah pelepasan sebagian
serviks atau pelepasan serviks secara sirkuler. Pelepasan ini dapat dihindarkan dengan
seksio secarea jika diketahui bahwa ada distosia servikalis.
Apabila sudah terjadi pelepasan serviks, biasanya tidak dibutuhkan pengobatan,hanya jika ada perdarahan, tempat perdarahan di lanjut. Jika bagian serviksyang terlepas masih berhubungan dengan jaringan lain, hubungan ini sebaiknyadiputuskan.
Retensio Plasenta
Adalah keadaan dimana plasenta belum lahir dalam waktu 1 jam setelah bayi
lahir.Faktor-faktor yang mempengaruhi pelepasan plasenta:
1.Kelainan dari uterus sendiri, yaitu anomali dari uterus atau serviks; kelemahandan tidak efektifnya kontraksi uterus; kontraksi yang tetanik dari uterus; sertapembentukan constriction ring.
2.Kelainan dari placenta dan sifat perlekatan placenta pada uterus.
3.Kesalahan manajemen kala tiga persalinan, seperti manipulasi dari uterus yangtidak perlu sebelum terjadinya pelepasan dari plasenta menyebabkan kontraksi yang tidak ritmik; pemberian uterotonik yang tidak tepat waktu dapatmenyebabkan serviks kontraksi dan menahan plasenta; serta pemberian anestesiterutama yang melemahkan kontraksi uterus.
Sebab-sebab terjadinya retensio plasenta ini adalah:
1.Plasenta belum terlepas dari dinding uterus karena tumbuh melekat lebih dalam.Perdarahan tidak akan terjadi jika plasenta belum lepas sama sekali dan akanterjadi perdarahan jika lepas sebagian. Hal ini merupakan indikasi untukmengeluarkannya. Menurut tingkat perlekatannya dibagi menjadi:
a.Plasenta adhesiva, melekat pada endometrium, tidak sampai membran basal.
b.Plasenta inkreta, vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus desidua
sampai ke miometrium.
c. Plasenta akreta, menembus lebih dalam ke miometrium tetapi belum
menembus serosa.
d.Plasenta perkreta, menembus sampai serosa atau peritoneum dinding rahim
2.Plasenta sudah lepas dari dinding uterus akan tetapi belum keluar, disebabkanoleh tidak adanya usaha untuk melahirkan atau karena salah penanganan kala III,sehingga terjadi lingkaran konstriksi pada bagian bawah uterus yang menghalangikeluarnya plasenta (plasenta inkarserata)
Tanda-tanda lepasnya plasenta adalah fundus naik dimana pada perabaan uterusterasa bulat dan keras, bagian tali pusat yang berada di luar lebih panjang dan terjadiperdarahan sekonyong-konyong. Cara memastikan lepasnya plasenta:
1. Kustner
Tangan kanan menegangkan tali pusat, tangan kiri menekan di atas simfisis. Bila
tali pusat tak tertarik masuk lagi berarti tali pusat telah lepas.
2. Strassman
Tangan kanan menegangkan tali pusat, tangan kiri mengetuk-ngetuk fundus. Jika
terasa getaran pada tali pusat, berarti tali pusat belum lepas
3. Klein
Ibu disuruh mengejan. Bila plasenta telah lepas, tali pusat yang berada diluar
bertambah panjang dan tidak masuk lagi ketika ibu berhenti mengejan.
Apabila plasenta belum lahir ½ jam-1 jam setelah bayi lahir, harus diusahakanuntuk mengeluarkannya. Tindakan yang dapat dikerjakan adalah secara langsungdengan perasat Crede dan Brant Andrew dan secara langsung adalah dengan manualplasenta.
Sisa Plasenta
Tertinggalnya sebagian plasenta (sisa plasenta) merupakan penyebab umumterjadinya pendarahan lanjut dalam masa nifas (pendarahan pasca persalinansekunder). Pendarahan post partum yang terjadi segera jarang disebabkan oleh retensi otongan-potongan kecil plasenta. Inspeksi plasenta segera setelah persalinan bayiharus menjadi tindakan rutin. Jika ada bagian plasenta yang hilang, uterus harusdieksplorasi dan potongan plasenta dikeluarkan
Sewaktu suatu bagian dari plasenta (satu atau lebih lobus) tertinggal, makauterus tidak dapat berkontraksi secara efektif dan keadaan ini dapat menimbulkanperdarahan. Tetapi mungkin saja pada beberapa keadaan tidak ada perdarahan dengansisa plasenta.
Inversio Uteri
Inversio uteri dapat menyebabkan pendarahan pasca persalinan segera, akantetapi kasus inversio uteri ini jarang sekali ditemukan. Pada inversio uteri bagian atasuterus memasuki kavum uteri, sehingga fundus uteri sebelah dalam menonjol kedalam kavum uteri. Inversio uteri terjadi tiba-tiba dalam kala III atau segera setelahplasenta keluar.
Inversio uteri bisa terjadi spontan atau sebagai akibat tindakan. Pada wanitadengan atonia uteri kenaikan tekanan intraabdominal dengan mendadak karena batukatau meneran, dapat menyebabkan masuknya fundus ke dalam kavum uteri yangmerupakan permulaan inversio uteri. Tindakan yang dapat menyebabkan inversiouteri adalah perasat Crede pada korpus uteri yang tidak berkontraksi baik dan tarikanpada tali pusat dengan plasenta yang belum lepas dari dinding uterus.
Pada penderita dengan syok, perdarahan, dan fundus uteri tidak ditemukan padatempat yang lazim pada kala III atau setelah persalinan selesai, pemeriksaan dalamdapat menunjukkan tumor yang lnak di atas serviks atau dalam vagina sehinggadiagnosis inversio uteri dapat dibuat. Pada mioma uteri submukosum yang lahirdalam vagina terdapat pula tumor yang serupa, akan tetapi fundus uteri ditemukandalam bentuk dan pada tempat biasa, sedang konsistensi mioma lebih keras daripadakorpus uteri setelah persalinan. Selanjutnya jarang sekali mioma submukosumditemukan pada persalinan cukup bulan atau hampir cukup bulan.
Walaupun inversio uteri kadang-kadang bisa terjadi tanpa gejala denganpenderita tetap dalam keadaan baik, namun umumnya kelainan tersebut menyebabkankeadaan gawat dengan angka kematian tinggi (15-70%). Reposisi secepat mungkinmemberi harapan yang terbaik untuk keselamatan penderita
Kelainan pembekuan darah
Kegagalan pembekuan darah atau koagulopati dapat menjadi penyebab danakibat perdarahan yang hebat. Gambaran klinisnya bervariasi mulai dari perdarahanhebat dengan atau tanpa komplikasi trombosis, sampai keadaan klinis yang stabilyang hanya terdeteksi oleh tes laboratorium. Setiap kelainan pembekuan, baik yangidiopatis maupun yang diperoleh, dapat merupakan penyulit yang berbahaya bagikehamilan dan persalinan, seperti pada defisiensi faktor pembekuan, pembawa faktorhemofilik A (carrier), trombopatia, penyakit Von Willebrand, leukemia, trombopeniadan purpura trombositopenia. Dari semua itu yang terpenting dalam bidang obstetridan ginekologi ialah purpura trombositopenik dan hipofibrinogenemia.
a. Purpura trombositopenik
Penyakit ini dapat bersifat idiopatis dan sekunder. Yang terakhir disebabkan olehkeracunan obat-obat atau racun lainnya dan dapat pula menyertai anemia aplastik,anemia hemolitik yang diperoleh, eklampsia, hipofibrinogenemia karena solutioplasenta, infeksi, alergi dan radiasi.
b. Hipofibrinogenemia
Adalah turunnya kadar fibrinogen dalam darah sampai melampaui batas tertentu, yakni 100 mg%, yang lazim disebut ambang bahaya (critical level). Dalamkehamilan kadar berbagai faktor pembekuan meningkat, termasuk kadarfibrinogen. Kadar fibribogen normal pada pria dan wanita rata-rata 300mg%(berkisar 200-400mg%), dan pada wanita hamil menjadi 450mg% (berkisar antara300-600mg%).


DAFTAR PUSTAKA
Cunningham FG, MacDonald PC, Gant NF. Obstetri William Edisi 18. Jakarta: EGC,
1995.
Supono. Ilmu Kebidanan Bab Fisiologi. Palembang: Bagian Departemen Obstetri dan
Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, 2004.
Khoman JS. Pendarahan Hamil Tua dan Pendarahan Post Partum. Cermin Dunia
Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992 : 60-63.
Prawirohardjo, Sarwono. Ilmu Kebidanan Edisi Ketiga, Eds: Hanifa Wiknjosastro
dkk. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2005



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar